Minggu, 23 September 2018

"Susu Binatang" Kader Posyandu lagi dikumpulkan untuk diberikan penyuluhan akan pentingnya Air Susu Ibu (ASI). Para kaderpun berkumpul didampingi para suaminya. Pemateri handal pun diterjunkan dari Dinas Kesehatan Riau. Rozita alias Kak Ros, itu sapaan akrabnya di mata jurnalis di Pekanbaru. Pembahasan kala itu seputar ASI. Karena menurut kader, angka ASI Ekslusuf masih rendah karena susah sekali mengajak ibu-ibu untuk mau menyusui anaknya. Di depan para kader Posyandu, pemateri memberikan wejangan betapa pentingnya arti ASI untuk balita. Program ke kembali ASI harus digalakan para kader mengingat kaum ibu masa kini banyak bergantung pada susu bantu. " Ibu ibu jangan kaget, kalau anak-anak sekarang susah makan, payah diatur. Beda dengan anak jaman dulu, walau orang tua punya anak 8, tapi lebih mudah mengaturnya," kata pemateri membuka cerita. Pemaparan itu pun mendapat antusias dari kaum emak-emak. Mereka menyadari saat ini betapa repotnya mengurus anak. "Beda anak dulu dengan sekarang. Anak jaman dulu, jaman dulu tidak mengenal yang namanya susu formula hanya diberi air susu ibunya. Anak sekarang baru lahir sudah di kenalkan pakai susu formula. "Susu formula berasal dari apa ibu-ibu? Tanya si pemateri. Dijawab serentak oleh para kader " Susu sapi buuuk..." Sapi itu apa bu? Tanya si pemateri. " Binatang buuk".. jawab kader lagi sambil berpandang-pandangan. "Jadi jangan kaget kalau tingkahnya juga kayak binatang," kata pemateri. Ungkapan lugas dan tegas ini, membuat diskusi kian hangat. Sebagian berpandang-pandangan. Sebagian lagi mengangguk-angguk mengamini. Para kaum ibu tambah semangat menceritakan tingkah anak-anak mereka ke pamateri. "Iya betul buk, ampunlah ngurus anak-anak sekarang. Ngasi makan saja harus jalan sana sini," timpal kader Posyandu. Suasana diskusi semakin hangat. Karena materi yang diberikan merupakan fenomena yang ada di masyarakat sekarang. "Secanggih apapun pabrik susu itu, tidak akan mampu memisahkan faktor gen binatang yang ada. Susu binatang sebaiknya diminum binatang, bukan manusia," kata pemateri. "Tuhan sudah menjamin ASI lebih baik untuk balita ketimbang susu binatang. Jangan salahkan anak-anak yang diberi susu binatang, kalau prilakunya seperti asal dari susu itu," kata Kak Ros tersenyum. Kader Posyandu diajak untuk memberikan pemahaman ke warga akan pentingnya ASI. Dengan ASi kekebalan tubuh bayi jauh lebih kuat ketimbang susu binatang tadi. "Berikan air susu ibu itu untuk balita, agar mereka tumbuh dengan lebih baik," papar ibu dari tiga orang anak itu. Sekalipun para kader sangat antusias membahas susu binatang vs ASI, namun kaum Adam yang ada saat hanya terlihat diam. Mereka sibuk pula dengan kelompoknya sendiri. Para bapak sepertinya kurang tertarik karena dianggap itu urusan ibu-ibu. Pun begitu mereka tak beranjak dari tempat duduk. Dialog terus berlangsung dengan hangat. Sampai di ujung waktu, wejangan pun akan segera berakhir. Kelompok ayah-ayah masih terkesan ogah-ogahan. Tapi si pemateri diakhir pemaparannya bisa membuat kaum bapak tercengang. Pemateri pun dengan senyumannya memberikan pesan dengan nada sedikit mentel dan mata yang nakal. Pesan terakhir itu, membuat kaum bapak menjadi fokus. Mata mereka tajam menatap sang pemateri seakan lupa istri mereka ada di sampingnya. Inilah kalimat terakhir yang disampaikan Kak Ros membuat mata lelaki tertuju kepadanya. "Tuhan telah ciptakan ASI dengan sebaik-baik manfaat. Tidak merepotkan, hangat, tersedia kapan saja diperlukan tinggal dikasih, gampang kok, bukan kayak susu bantu kita harus membuatnya ke dapur, masak air lagi. Jadi buat apa beralih ke yang lain, sungguh luar biasa ciptaan Allah sudahlah susu ibu itu indah, hangat, enak dipandang, banyak manfaat lagi, bukan begitu bapak-bapak?" "Betul buuuk" jawab mereka spontan sembari menatap tajam ke arah dada si pemateri. "Susu siapa ya buk yang hangat itu," celutuk salah seorang bapak-bapak. " Ya ASI istri bapaklah," kata Kak Ros dengan nada menggoda. "Dasar gatal" bisik pemateri dalam hati. Selamat berlibur bersama keluarga. Pekanbaru, Minggu (2292918) (By Haidir Tanjung)